BENGKALIS, detik45.com – Nama Fakhtiar Qadri bukan sosok yang asing dalam lingkungan organisasi kepemudaan dan politik di Kabupaten Bengkalis. Pria yang akrab disapa ‘Ngah Tiar’ itu telah melewati perjalanan panjang, mulai dari aktivisme mahasiswa, pendampingan ekonomi masyarakat desa, hingga menjadi anggota DPRD Kabupaten Bengkalis. Dikenal luas dengan pembawaannya yang low profile dan ramah kepada semua orang, kini ia memasuki babak baru dengan memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis periode 2026–2031.
Sebelum menduduki posisi tersebut, Fakhtiar menghabiskan bertahun-tahun waktunya dalam organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Ia juga pernah bekerja hampir satu dekade dalam program pendampingan ekonomi masyarakat desa dan kelurahan.
Perjalanan itu membawanya ke parlemen setelah terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Bengkalis periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Bengkalis–Bantan. Dua tahun kemudian, ia mendapat kepercayaan memimpin Partai Golkar di daerah tersebut.
Fakhtiar terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Bengkalis pada Selasa malam, 27 Oktober 2026. Ia menjadi satu-satunya kandidat yang mendaftarkan diri hingga penutupan pendaftaran. Sebanyak 16 pemilik suara dalam Musda memberikan dukungan kepadanya.
Terpilihnya Fakhtiar menambah tanggung jawab politik yang harus dijalankannya. Selain menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, ia kini harus memimpin konsolidasi organisasi dan mempersiapkan Partai Golkar Bengkalis menghadapi kontestasi politik berikutnya.
Namun, perjalanan menuju posisi tersebut tidak berlangsung singkat. Pengalaman organisasi, pekerjaan pendampingan masyarakat, serta kegagalan dalam sejumlah kontestasi menjadi bagian dari proses yang mengiringi langkahnya.
Berawal dari Aktivisme Mahasiswa
Fakhtiar lahir di Pangkalan Batang, Kecamatan Bengkalis, pada 20 Mei 1987. Ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau dengan mengambil bidang Administrasi Negara.
Semasa kuliah, ia mulai aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa. Salah satunya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang menjadi ruang baginya untuk mengenal aktivitas organisasi dan gerakan kemahasiswaan.
Pada 2005–2006, Fakhtiar bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara UIN Suska Riau. Aktivitasnya kemudian berkembang ke tingkat universitas.
Pada 2006–2008, ia menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat universitas dengan membidangi Hubungan Luar Mahasiswa. Dalam organisasi tersebut, ia terlibat dalam kegiatan komunikasi dan hubungan antar mahasiswa.
Ia juga aktif dalam Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Bengkalis (IPMKB) Pekanbaru. Pada 2008 hingga pertengahan 2010, ia dipercaya menjabat sekretaris umum organisasi tersebut.
Aktivitas organisasi berjalan beriringan dengan keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa. Pada masa itu, Fakhtiar turut menyuarakan berbagai aspirasi melalui aksi mahasiswa di lapangan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian awal perjalanannya mengenal dinamika organisasi, menyampaikan aspirasi, dan berinteraksi dengan berbagai kalangan. Lingkungan kampus sekaligus mempertemukannya dengan berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan.
Dua Kali Mengalami Kegagalan
Perjalanan organisasi Fakhtiar tidak seluruhnya diisi keberhasilan. Ia pernah mencoba mengikuti kontestasi kepemimpinan, tetapi belum mendapatkan hasil sesuai harapan.
Pada 2008, ia mencalonkan diri sebagai Ketua IPMKB. Namun, ia belum berhasil memperoleh kepercayaan untuk memimpin organisasi tersebut.
Dua tahun kemudian, pada 2010, ia kembali mengikuti kontestasi dengan mencalonkan diri sebagai Ketua Karang Taruna tingkat desa. Hasilnya kembali belum sesuai harapan.
Dua pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasinya sebelum melanjutkan aktivitas di lingkungan masyarakat Kabupaten Bengkalis.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada pertengahan 2010, Fakhtiar kembali ke Bengkalis. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di Universitas Riau.
Aktivitas organisasinya berlanjut melalui Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bengkalis. Bergabung sejak 2011, ia menjalani proses organisasi selama beberapa tahun. Dalam periode 2011–2019, ia dipercaya mengemban sejumlah tanggung jawab hingga menjabat sebagai salah satu wakil ketua DPD KNPI Kabupaten Bengkalis.
Melalui KNPI, ruang aktivitasnya semakin luas. Ia berinteraksi dengan berbagai organisasi kepemudaan dan elemen masyarakat di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa dan kelurahan.
Hampir Satu Dekade Mendampingi Ekonomi Desa
Di luar aktivitas organisasi kepemudaan, Fakhtiar juga menjalani pekerjaan dalam bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sejak 2012, ia bekerja di lingkungan pemerintahan Kabupaten Bengkalis sebagai Koordinator Kabupaten (Korkab) Kepala Pendamping Desa Bidang Ekonomi.
Pekerjaan tersebut membuatnya berinteraksi dengan berbagai kelembagaan ekonomi desa dan kelurahan di Kabupaten Bengkalis. Selama hampir sepuluh tahun, ia menjalankan tugas pendampingan dalam bidang ekonomi masyarakat.
Dalam periode tersebut, ia melewati beberapa masa kepemimpinan pemerintahan daerah, mulai dari Bupati Herliyan Saleh, Bupati Amril Mukminin, hingga Penjabat Bupati Ahmad Syah Harrofie.
Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam perjalanan pekerjaannya sebelum masuk ke politik praktis. Melalui tugas pendampingan, ia berada dalam lingkungan program pemberdayaan ekonomi masyarakat desa dan kelurahan.
Setelah bertahun-tahun menjalankan pekerjaan tersebut, Fakhtiar mengakhiri kiprahnya sebagai pendamping desa pada akhir 2020. Ia mengundurkan diri pada masa Penjabat Bupati Bengkalis Syahrial Abdi.
Keputusan itu menjadi salah satu titik perubahan dalam perjalanan kariernya. Setelah meninggalkan pekerjaan tersebut, ia memilih memasuki dunia politik melalui Partai Golkar.
Memasuki Dunia Politik
Setelah bergabung dengan Partai Golkar, Fakhtiar mulai membangun pengalaman melalui aktivitas kepartaian.
Pada 2021–2023, ia dipercaya menjadi tenaga ahli Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Bengkalis. Pekerjaan tersebut memberinya kesempatan mengenal lebih dekat aktivitas lembaga legislatif sebelum mengikuti kontestasi politik secara langsung.
Pengalaman di lingkungan DPRD menjadi bagian dari proses sebelum ia memutuskan mengikuti pemilihan anggota legislatif.
Pada Pemilihan Legislatif 2024, Fakhtiar maju sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Bengkalis dari daerah pemilihan Bengkalis–Bantan. Dalam pencalonan pertamanya, ia berhasil memperoleh kepercayaan masyarakat dan terpilih untuk periode 2024–2029.
Ia menempati posisi kelima dalam perolehan suara di daerah pemilihan yang menyediakan sembilan kursi tersebut.
Terpilih menjadi anggota DPRD menandai perubahan perannya. Setelah bertahun-tahun beraktivitas dalam organisasi dan pemberdayaan masyarakat, ia kini menjalankan tugas sebagai wakil rakyat melalui lembaga legislatif daerah.
Di tengah aktivitasnya sebagai anggota parlemen dan pengurus partai, sikap membumi membuat Ngah Tiar mudah berbaur dengan rekan sejawat maupun masyarakat. Di luar panggung politik, pria yang dikenal ramah ini fokus meluangkan waktu untuk keluarga. Statusnya sebagai suami dan ayah dari tiga anak menjadi penyeimbang di tengah padatnya tanggung jawab kepartaian yang kini dipikulnya.
Memimpin Golkar Bengkalis dan Menyiapkan Konsolidasi
Perjalanan politik Fakhtiar kembali memasuki babak baru setelah Musda Partai Golkar Kabupaten Bengkalis pada 27 Oktober 2026.
Dalam forum tersebut, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bengkalis periode 2026–2031. Dukungan 16 pemilik suara mengantarkannya menjadi satu-satunya kandidat yang ditetapkan sebagai ketua.
Fakhtiar menempatkan konsolidasi organisasi sebagai pekerjaan awal kepemimpinannya. Ia berencana melakukan pendataan kader, membenahi struktur kepengurusan, dan merangkul seluruh kader Golkar di Kabupaten Bengkalis.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan perolehan suara partai pada pemilihan legislatif mendatang.
Salah satu target yang ingin dicapainya adalah memastikan Partai Golkar memperoleh minimal satu kursi di setiap daerah pemilihan. Target itu menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi partai di lembaga legislatif daerah.
Fakhtiar mengakui target tersebut tidak mudah dicapai. Dukungan kader, simpatisan, dan seluruh pengurus partai menjadi faktor penting untuk memperkuat organisasi hingga tingkat bawah.
Selain konsolidasi internal, ia berencana memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bengkalis. Partai Golkar Bengkalis, dalam kepemimpinannya, akan mendukung program-program pemerintah daerah.
Untuk menyusun kepengurusan baru, Musda menetapkan tim formatur yang terdiri atas perwakilan pengurus kecamatan, pengurus tingkat provinsi, ketua terpilih, dan perwakilan organisasi sayap partai. Sekretaris DPD Golkar Riau, Suparman, juga masuk dalam tim tersebut.
Tim formatur memiliki waktu satu bulan untuk menyusun struktur kepengurusan. Setelah rampung, susunan tersebut akan diajukan kepada DPD Golkar Riau dan pengurus pusat sebelum pelantikan.
Perjalanan Fakhtiar dari organisasi mahasiswa, kepemudaan, hingga pemberdayaan ekonomi desa kini membawanya ke dua tanggung jawab politik sekaligus: sebagai anggota DPRD Kabupaten Bengkalis dan Ketua DPD Partai Golkar Bengkalis.
Pengalaman panjang tersebut menjadi bagian dari rekam jejaknya. Sementara itu, konsolidasi kader, pembenahan struktur organisasi, dan target perolehan kursi legislatif menjadi pekerjaan yang harus dijalankannya selama memimpin Golkar Bengkalis lima tahun ke depan.[*]
Leave a Reply